Real Business Case: Pengalaman Bangkrut dengan AnJell Jelly #1

Ide ini berawal beberapa bulan yang lalu. Entah buku atau audio cd apa yang meracuni saya, tiba-tiba saya ingin memiliki bisnis offline yang bisa saya waralabakan. Pilihan saya waktu itu jatuh pada jeli.

Maksudku, ayolah... semua orang suka jeli. Rasanya manis, kenyal, segar, dan berserat tinggi. Apalagi jika dicampur buah dan nata de coco. Anak-anak pasti suka. Mereka tak akan bisa melawan keinginan untuk membelinya lagi dan lagi.

Sasaran saya waktu itu adalah sekolahan. Yup, saya bisa menitipkan jeli saya ke koperasi atau pedagang yang ada di sekitar situ. Tidak mungkin mereka tak mau memiliki satu lagi tambahan penghasilan bukan? Lagipula, dengan begitu saya bisa tetap kuliah dan berjualan.

Hup! Saya mulai merencanakan bisnis kecil saya. Saya memikirkan tentang konsep jeli saya, resepnya, namanya (saya putuskan AnJell -- plesetan dari Angel), logonya (saya bayar teman saya 150.000 untuk membuat logo profesional untuk saya), dan mencari tahu seberapa banyak jeli yang bisa saya buat dari 1 sachet Nutri Jell.

Saya juga mulai membeli beberapa pak Nutri Jell. Membeli cetakan jeli, membeli cup jeli, sendoknya, buah-buahan, box tempat saya bisa menaruh jeli-jeli saya sehingga bisa dijual, dan lain-lain.

Saya sudah punya pikiran untuk menjadikan produksi jeli saya seotomatis mungkin. Namun, itu nanti setelah saya bisa membuat jeli saya dan mendapat respon bagus dari pasar. Rencananya, saya akan membayar orang untuk membuatkan jeli.

Sistem upahnya adalah jumlah jeli yang bisa dibuat dikali dua ratus rupiah. Jika sehari bisa membuat 100 cup jeli dalam 2 jam (dan sangat mungkin sekali), maka ia akan mendapat 20.000 rupiah (600.000 rupiah per bulan). Hm... ga terlalu jelek menurutku.

Tapi, tentu itu rencana setelah jeli yang kujual bisa 100 cup atau lebih. Sementara itu, tentulah saya yang menjadi orang yang 100% mengurusi dan membuat jeli-jeli saya.

Jeli saya, meski dikemas dalam cup kecil, memiliki banyak nilai tambah -- setidaknya itulah yang saya pikir. Niat awal saya adalah menjual jeli dalam cetakan-cetakan.

Saya akan menjual per cetakan 1.500 rupiah. Setelah saya menemukan cup kecil yang rasanya lebih cocok untuk jeli dan memiliki daya tampung 3 kali cetakan jeli yang saya punya, saya putuskan untuk menggunakan cup kecil tersebut dan menjual jeli saya per cup 4.000 rupiah.

4.000 rupiah per cup? Apa tidak kemahalan tuh buat jajan anak-anak. Saya awalnya tidak tahu. Tapi saya waktu itu mempertimbangkan bahwa harga tersebut adalah harga yang cukup pantas.

Maksud saya, jeli yang saya buat itu enak. Ada nata de coco dan buah didalamnya, saya harus mempertimbangkan jeli yang nantinya tidak laku, saya harus memberi komisi pada pedagang yang saya titipi jeli, saya juga harus punya uang untuk membayar pegawai untuk membuatkan jeli-jeli tersebut untuk saya - nantinya.

Terlebih lagi, gula cukup mahal - 12.000 rupiah per kg. Jeli yang merupakan jajanan manis membutuhkan gula dalam jumlah banyak, dan saya - sebagai pemilik bisnis - juga harus untung agar tetap termotivasi untuk terus berjalan di bisnis ini.

Okay, saya putuskan. Rp 4.000 per cup jeli. Banyak orang yang bilang terlalu mahal, tapi mereka tidak tahu apa yang ada di kepala saya saat itu, jadi saya tidak menghiraukan mereka. Lagipula pikir saya, lebih baik masuk pasar secepatnya di harga mahal.

Jika pasar merespon dengan baik, maka saya untung lebih banyak -- yang merupakan hal bagus, dan jika pasar merespon dengan kurang baik -- jeli saya tidak laku -- saya bisa menurunkan harga atau meng-fine tune produk saya sehingga dapat diterima.

Tapi yang penting, saya masuk pasar dulu.

Okay, saya mulai bergerilya ke SMP dan SD disekitar lingkungan saya. Yang pertama kali saya dekati adalah pak Jaz. Dia adalah tukang kebun SMP saya yang lumayan kenal dengan saya. Dia juga punya toko kecil tempat orang lain menitip jajan kepadanya.

Saya kesana dan berbicara pada beliau, dia setuju. Dia tahu saya tidak kekurangan uang sehingga perlu menjual jeli, jadi pernah di suatu kesempatan dia bertanya pada saya tentang jeli - jeli tersebut. Tak ingin terlihat sok, saya cuman jawab, "Buat tugas semester di kuliah pak Jaz..."

Sementara itu, saya juga bergerilya di SD - SD. Sangat mudah untuk meyakinkan pak Jaz, jadi pasti mudah untuk meyakinkan tempat-tempat lain untuk kutitipi jeliku...

Perkiraanku salah - ada suatu SD yang ternyata telah menjual jeli yang kurang lebih sama sepertiku. Bedanya, dia menjual per cup nya 1.000 rupiah. Jauh lebih murah dibanding aku.

Bagaimana bisa? Ketika pertama kali kulihat, isi dari jeli mereka adalah cao. Tentu lebih murah dibanding nata de coco dan buah. Kedua, ketika kuincipi, jeli tersebut bukan benar-benar jeli. Sangat lembek dan lunak hingga bahkan aku tak tahu itu jeli atau agar-agar.

Berbeda denganku yang mengikuti resep di sachet Nutri Jell dalam membuat jeli, aku bisa bayangkan bahwa penjual yang satu itu menambahkan banyak air ke adonan jelinya.

Apakah saya mengatakan tidak boleh? Tentu saja tidak... terserah dia mau melakukan apa dengan resep jeli yang dia punya. Tapi yang jelas saya tak bisa menjual di SD-SD sekitar situ.

Okay, tak apa pikirku. Yang penting sudah ada satu SMP yang menerimaku. Mari kita lihat bagaimana jadinya.

Hari pertama berlalu. Ugh... hari yang sangat buruk bagi bisnis menurutku. Hari itu saya belajar bahwa saya butuh tempat yang akan menjaga jeli saya tetap dingin.

Siang hari bisa sangat panas di Sidoarjo. Jeli-jeli saya sedikit meleleh karena panas. Jeli-jeli saya juga menjadi terlalu manis karena kepanasan. Buah yang ada didalamnya? Menjadi tidak enak dan tidak layak konsumsi karena panas.

Dari 40 jeli yang saya titip, hanya 7 yang terjual. Hm... pengalaman yang menyesakkan hati bukan? Tapi saya belajar bahwa begitulah cara kita belajar - dengan merasakan kepahitan.

Pak Jaz menghiburku dengan mengatakan bahwa jeli saya cuman belum dikenal saja. Okay, saya percaya. Tapi setidaknya saya harus bisa mengatasi masalah suhu. Sepulangnya dari sana, saya langsung membeli styrofoam besar, memikirkan sistem penyimpanan yang menjadikan jeli saya tetap dingin selama sehari penuh.

'Kulkas' portable saya jadi. Simpel saja, saya letakkan barisan es dibagian bawah styrofoam. Saya lapis dengan styrofoam berlubang-lubang, tempat saya meletakkan jeli saya. Di bagian atas styrofoam, ada sign box yang bertulis "Delicious Jelly Inside -- Only Rp 4.000 -- Open to Get One!"

Saya coba tiga hari. Penjualan tidak menentu, berkisar di antara 7 - 15 cup per hari - dari 20 cup. Ugh... bukan itu yang saya harapkan. Bayangan saya adalah jeli saya jadi rebutan, habis dibeli sehingga saya harus membuat lebih banyak -- bukannya semakin menurun...

Hari keempat tiba, saya dikejutkan cerita pak Jaz bahwa jeli saya hanya laku 4 cup saja hari itu. Ugh, perasaan saya agak kacau waktu itu. Tapi saya laki-laki tipe logika banget -- takkan ada yang tahu perubahan perasaan saya karena topeng senyum terus sedang saya pakai. Seperti hari-hari sebelumnya ketika jeli saya tidak begitu laku, saya beri pak Jaz dua jeli gratis sebagai ucapan terima kasih.

Dan saat itu saya berkata pada diri saya sendiri... saya harus cari ide untuk jeli yang baru...

Bersambung...........

Saya rugi banyak, tentu... anda tak usah tanya. Tapi kerugian saya ada dalam kisaran yang saya mampu tanggung. Ini pelajaran yang bisa anda ambil dari cerita ini -- mulailah bisnis dari yang sangat kecil, sehingga anda tahu bahwa jika bahkan anda sangat bangkrut sekalipun, hal itu tak akan mempengaruhi hidup anda.

Biaya buah, cetakan yang tak terpakai, nutrijell, jeli, dan lain-lain yang telah saya keluarkan kira-kira lebih dari 300.000 rupiah. Tapi saya punya lebih banyak uang daripada itu, jadi jumlah itu tak terlalu 'menyengat' saya. Toh, saya mendapat banyak pelajaran dari itu, jadi saya anggap semua itu biaya belajar.

Jika saya berani habiskan lebih dari dua juta rupiah untuk workshop yang kurang lebih hanya mengajarkan saya 'cara membaca' (ya, saya pernah ikut workshop BacaKilat dari pak Agus, murid langsung Adi W. Gunawan seharga 2 juta lebih, saya bahkan masih simpan sertifikatnya), kenapa saya tidak bisa menukarkan 300.000 untuk pelajaran yang sangat berharga dari pengalaman berjualan jeli ini?

Post ini sudah kepanjangan, saya akan ceritakan kelanjutannya tentang cerita ini lain kali. Saya akan beritahu anda jeli baru yang saya buat dan bagaimana nasib jeli-jeli tersebut di pasaran. So, stay tune.

Salam Pintar!! (P.S: Jika anda suka, jangan lupa di share dengan kawan-kawan anda. Barangkali mereka juga suka. Dan jangan lupa komen!!)

Tentang Syamsul Alam

Saya Syamsul Alam. Blogger, internet marketer, dan pelajar jadi satu. Seperti yang lain, saya ingin terkenal, jadi rockstar. Tapi saya tidak punya bakat jadi rockstar. Untuk itulah saya menulis, biar terkenal (bercanda). Temui saya di SyamsulAlam.net

Report PREMIUM: Simple SEO Domination - 1.000 Pengunjung / Hari dalam 3 Bulan!!

Uang itu letaknya di TRAFIK. Tak akan ada bisnis yang bisa dibuat di situs yang sepi. Dapatkan panduan pasti dapatkan 1.000 pengunjung / hari pertama anda dengan SEO di Report Premium ini. Beli seharga Rp 97.000 atau masukkan email anda di bawah ini untuk dapatkan report ini GRATIS!!

Rp 97.000 |
kisah orang sukses berwirausaha
kisah orang sukses dari nol
cerita orang miskin yang sukses
kisah pengusaha muda sukses
kisah orang sukses yang menginspirasi
kisah perjalanan orang sukses
kisah nyata pengusaha sukses
biografi pengusaha yang sukses

15 thoughts on “Real Business Case: Pengalaman Bangkrut dengan AnJell Jelly #1

  1. pelajaran yang sangat berharga.
    kalau saya dalam bisnis seperti ini, tentu harapan saya seperti ketika saya koding program. ketika program tidak berfungsi sebagaimana mestinya, edit sedikit, kompilasi, tes. jika masih kurang, edit lagi, kompilasi, tes lagi. begitu seterusnya. tapi di bisnis seperti ini mungkin tidak mudah, karena ada biaya yang harus dikeluarkan selama bisnis dalam masa beta testing 😀

    1. Betul, lain kali akan saya share pelajaran tentang pantang menyerah dan kerja keras. Prinsipnya memang rada-rada sama dengan koding program (berdasarkan pengalaman frustrasi ngedit theme). Hahaha…… Thanks karena sudah mampir mas Ega. Blog nya tambah keren aja nih kliatannya! Super!!

      Edit: Kok domain blognya di park sih? Padahal aku liat di preview komenku bagus banget loh… jadi ga bisa mampir deh……….

    2. iya mas.. akhir2 ini blog saya sering park di beberapa provider internet… mungkin dns server domain saya, atau bisa juga dns server publik providernya..

  2. “Okay, saya putuskan. Rp 4.000 per cup jeli. Banyak orang yang bilang terlalu mahal, tapi mereka tidak tahu apa yang ada di kepala saya saat itu, jadi saya tidak menghiraukan mereka”

    ane kira ini yang perlu mendapat perhatian gan:
    bagaimana kalau misalnya dibalik gini gan:
    “Okay, kamu putuskan. Rp 4.000 per cup jeli. kamu pikir itu tidak terlalu mahal, tapi kami tidak tahu apa yang ada di kepalamu saat itu, jadi kami tidak menghiraukan kamu”

    oh ya gan, ini temen ane juga merintis jual makanan, barangkali bisa jadi ‘inspirasi’. pernah, dalam waktu 5 menit, terjual 30 porsi gan. semuanya model online preorder. (http://warren-management.webatu.com/)

    maaf ya gan kalau kurang berkenan. (boleh dihapus kok…)
    BTW, semoga sukses ya gan…
    dan terima kasih sdh mau share pengalaman…

    1. haha…. yang ada dikepala saya saat itu adalah itung-itungan tentang laba-rugi gan, banyak yang kasih saran yang masuk akal sebenarnya, tapi itu untuk cerita besok deh gan.

      Wah, bisa banget tuh untuk jadi inspirasi. Hebat sekali 30 porsi terjual dalam 5 menit. Lewat internet + mobile phone jualnya? Boleh donk share kisahnya di sini, untuk pelajaran buat saya dan teman-teman di sini.

      Trims karena sudah mampir dan komen gan, saya selalu menyambut komentar positif dari situ. kapan-kapan mampir lagi. sori telat balesnya karena komen situ nyangkut di spam. kapan-kapan, kalo komen pake nama asli dan dikasih alamat web nya yah. Biar saya tahu harus manggil apa (tidak pakai kata ‘situ’) dan biar saya bisa mampir ke blognya. 😀

    1. Haha, benar sekali! Wah, thifaonline keren banget nih kelihatannya. Toko herbal yang menyediakan apa aja nih?

  3. dari kerugian dapatlah pelajaran.. kalau gak pernah rugi/gagal kadang kita merasa paling pintar dan merasa gak perlu belajar,ya gak? hehehe..
    lama gak main ke alampintar,ternyata ada blog baru pas kmaren buka email..

    sy juga lama gak ngeblog,kayaknya bakal mulai ngeblog lagi deh. beberapa tmen blogger yg sempet ngilang,termasuk kamu :p, udah mulai muncul lagi

    1. Welcome back bro Ardy Pratama!! Saya nantikan cerita sukses affiliate marketingnya di warung bisnis. Btw sitenya barusan jadi yah? Semoga bro Ardy sukses selalu dan diridhoi oleh yang Maha Kuasa. Amien…

  4. pelajaran yang sangat berharga sekali jika kegagalan itu datang mungkin kita akan berfikir lagi untuk menemukan jalan keluar agar bisa lepas dan jangan sampai terjatuh lagi…

Comments are closed.